Kampung Bersih Berkelanjutan di Gundih, Surabaya
Wakil Presiden meninjau Kampung Bersih
Wakil Presiden Boediono meninjau Kampung Bersih Kelurahan Gundih, Surabaya. (Foto : Muhklis)
Bersama Ibu Herawati Boediono, Wapres dan para deputinya berkeliling dan bercakap-cakap singkat dengan warga kampung. Hadir pula Ketua Rukun Tetangga dan Rukun Warga yang telah berhasil mengelola lingkungan Margorukun menjadi wilayah yang bersih dan asri secara berkelanjutan.
Dalam kesempatan itu Wapres menapaki jalan setapak warna-warni yang mengitari kampung. Ia menengok mesin pembuatan kompos dan program pengolahan air limbah rumah tangga yang dikelola warga sehingga air bisa digunakan untuk menyiram tanaman. Diungkapkan, sejak proses ini berlangsung, lingkungan Margorukun berhasil menghemat penggunaan 150 kubik air setiap bulan.Wapres juga menengok bank sampah dimana masyarakat menyetor sampah rumah tangga yang sudah dipilah-pilah untuk ditimbang, dicatat dan dihargai sesuai beratnya. Uang pengelolaan sampah tersebut kemudian disimpan dalam tabungan khusus masing-masing keluarga. Rumah tangga yang boleh menggunakan fasilitas pengolahan air dan bank sampah adalah rumah tangga yang pekarangannya hijau.
Dalam perjalanan pulang kembali ke Jakarta, Wapres menyanjung keberhasilan sistem pengelolaan lingkungan yang bertumpu pada inisiatif warga tersebut. Menurutnya, kota dan daerah lain di Indonesia sebaiknya menengok ke Gundih untuk belajar apa yang bisa diterapkan di lingkungannya masing-masing. "Kalau kita ingin sebuah sistem yang berkelanjutan, maka pendekatannya harus dari masyarakat. Penataan pemukiman secara fisik bisa dilakukan pemerintah, tapi penataan sosial harus datang dari masyarakat," kata Wapres.
Wapres juga mengangkat jempol terhadap struktur pengorganisasian yang diciptakan Walikota Rismarini dimana gerakan kepedulian terhadap lingkungan dimulai dari tindakan pemerintah kota yang menggandeng lembaga swadaya masyarakat untuk memilih sejumlah tokoh masyarakat untuk menjadi fasilitator lingkungan. Masing-masing dari para fasilitator itu kemudian bekerja dengan kader-kader lingkungan yang terjun langsung ke lapangan. "Jadi bukan walikota yang menunjuk para fasilitator, tapi pihak LSM yang lebih mengetahui lapangan. Dengan begini baru sistemnya jalan,"kata Wapres.
Diungkapkan Menteri Lingkungan Hidup Balthazar Kambuaya yang ikut dalam kunjungan Wapres, ini adalah kali ketiga ia datang ke Surabaya dan mempelajari kesuksesan sistem pengelolaan lingkungannya. Kementerian Lingkungan Hidup, kata Balthazar, sedang mempertimbangkan bagaimana bisa menerapkan sistem yang berlaku di Gundih dan Surabaya pada umumnya tersebut ke daerah lain di Indonesia. "Kita pikirkan mereka yang pernah mendapatkan Adipura supaya mulai lebih dulu memiliki bank sampah, misalnya," kata Rektor Universitas Cenderawasih itu.
Dalam pemaparannya, Walikota Surabaya Risna mengatakan bahwa pemerintah kota Surabaya setiap hari membersihkan sampah-sampah warga yang dibuang di sembarang tempat dan membersihkan saluran. Ia juga mengerahkan pasukan jogo jumput, yaitu petugas kebersihan yang memunguti sampah di jalan.
Kota Surabaya memiliki lebih dari 1000 kampung setingkat RW yang sudah mengelola sampahnya sendiri. Masing-masing memiliki petugas yang selalu menjaga lingkungan, kira-kira satu orang petugas untuk kira-kira sepuluh rumah. Salah satunya kelurahan Jambangan RW 1 yang mendapat penghargaan pengelolaan air sedunia di Wina, Austria.
Dalam bimbingan pengelolaan kota, warga masyarakat melakukan upaya swadaya untuk memilah sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik dibuat kompos yang kemudian digunakan untuk taman-taman kota dan pekarangan warga. Di samping itu, para kader lingkungan juga mengelola kebun-kebun kecil tanaman dan kolam ikan warga. “Kami sudah mengirim sekitar 40 ton sehari cabe ke Tangerang dan Palembang dan 16 ton perikanan sehari ke Gresik dan Sidoarjo,” kata Walikota Rismarini.Pemerintah kota Surabaya kini memiliki 420 tokoh masyarakat yang menjadi fasilitator lingkungan. Para fasilitator itu bekerja dengan 28 ribu kader lingkungan di seluruh Surabaya. Pemerintah kota pun menggandeng media massa dalam mempublikasi kampung-kampung kebersihan dan mengadakan dua kali penghargaan kebersihan setiap tahunnya: Surabaya Green and Clean dan Merdeka dari Sampah yang dibiayai oleh kalangan swasta dan perusahaan-perusahaan negara yang berlokasi di Surabaya.
****
