Rabu, 30 Nopember 2011
Peluncuran Dua Buku Des Alwi

Wakil Presiden Boediono menerima dua buah buku karya mendiang Des Alwi. (Foto : Jeri Wongiyanto)
Jakarta. Wakil Presiden (Wapres) Boediono menghadiri peluncuran buku Des Alwi dan penyerahan dua bangunan peninggalan bersejarah di Banda Naira, Rabu 30 November 2011 di Gedung Perpustakaan Nasional. Hadir dalam acara tersebut Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Emil Salim, Pembina Warisan Budaya Banda Naira Jimly Asshiddiqie, putri proklamator Meutia Hatta, serta Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu.
Dua buku yang diluncurkan adalah “Dari Banda Naira Menjadi Indonesia” dan “Pertempuran Surabaya, November 1945.” Di saat yang sama juga diserahkan kunci rumah Deputy Gubernur Jenderal VOC , bangunan peninggalan bersejarah dan penandatanganan hibah untuk bangunan peninggalan bersejarah Rumah Kapten Tan Kha Koah yang selesai dipugar.
Tanya Alwi, putri almarhum Des Alwi menyampaikan bahwa buku berjudul “Pertempuran Surabaya, November 1945 adalah karya ayahnya yang terakhir yang dituntaskan pada jam-jam terakhir sebelum ia menjalani operasi jantung. Des Alwi tak pernah siuman sejak operasi itu. Ia menghembuskan nafas terakhir pada 12 November 2010.
Sedangkan bagi Prabowo Subianto, Des Alwi adalah tokoh yang memiliki jiwa revolusioner bangsa yang berapi-api, dan sangat pandai menjaga hubungan dengan semua keluarga politik Indonesia, mulai dari keluarga Bung Karno, Bung Hatta bahkan hingga Presiden Suharto. “Ini kualitas yang sangat jarang saat ini, ketika perbedaan politik menajam tapi semestinya persaudaraan dan persahabatan harus tetap dijaga di atas segalanya,” ucapnya.
Sementara itu, Emil Salim mengatakan bahwa almarhum Des Alwi ketika hidupnya sangat menginginkan kehadiran Presiden RI ke Banda Naira, tetapi upaya tersebut tidak pernah terwujud akibat infrastrukturnya yang tak memadai bagi aturan protokol Kepala Negara. Kekecewaan Des terobati dengan kehadiran Wapres Boediono yang menginap di Banda selama 3 hari pada 25 September 2009, beberapa minggu sebelum pelantikannya sebagai Wapres.
Emil Salim mengatakan, pulau Banda adalah pusat korporasi Belanda VOC yang termahsyur di abad 17. Pembangunan gedung-gedung di Jakarta pun meniru sejumlah gedung yang berfungsi sama di Banda. Emil mengutip sejarah pertukaran pulau Banda dan pulau Manhattan di New York yang dilakukan oleh Inggris dan Belanda. Ia menyayangkan betapa pembangunan di Banda belum jauh beranjak dari masa itu ketika infrastruktur masih sangat terbatas. “Inilah tempat lahirnya ide revolusi Indonesia. Inilah rahim lahirnya bangsa kita,” kata dia.
Emil Salim menggarisbawahi keinginan mendiang Des Alwi agar pemerintah pusat bisa memberikan perhatian khusus pada pulau Banda sebagai warisan pusaka bangsa Indonesia, mengingat pulau itu adalah tempat pembuangan para pendiri bangsa seperti Sukarno, Hatta, Sjahrir, Cipto Mangunkusumo dan Iwa Kusumasumantri di masa kolonial Belanda. Selain itu, Emil juga meminta agar Sekolah Tinggi Perikanan yang didirikan Des Alwi mendapat perhatian agar bisa terus berdiri dan bermanfaat melahirkan anak-anak muda Banda yang giat membangun tanah kelahirannya sendiri.
****
