Sambutan Wakil Presiden RI pada Pembukaan Rembug Nasional Saudagar Nahdlatul Ulama

Surabaya, 26 Januari 2012

Assalamualaikum Wr. Wb
Hadirin yang saya hormati,

Saya sungguh bahagia dapat kembali berada di antara Kaum Nahdliyin yang saat ini tengah melaksanakan sebuah perhelatan besar, yaitu Rembug Nasional Saudagar Nahdlatul Ulama. Hari ini, Nahdlatul Ulama (NU) menggelorakan kembali semangat kewirausahaan,  semangat kemandirian, yang sebetulnya adalah pondasi sejarah NU  sendiri semenjak pertama kali berdiri.

Warga NU tentu belum melupakan satu butir sejarah yang sangat penting. Bahwa pada tahun 1918, delapan tahun sebelum NU berdiri, 45 saudagar santri berkumpul bersama dan bersepakat untuk mendirikan Nahdlatut Tujjar, sebuah organisasi yang mencita-citakan kebangkitan kaum saudagar. Dua di antara yang turut berkumpul adalah Ulama Besar yang sangat kita hormati, K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Wahab Hasbullah, yang kemudian juga mendirikan NU.

Dari sini kita dapat mengambil hikmah, bahwa para ulama besar NU sejak semula sudah menyadari; betapa pentingnya peran kaum saudagar dalam mendorong perbaikan kesejahteraan umat. Para Ulama Besar NU sudah mempunyai visi yang jauh ke depan: sebuah kaum membutuhkan kelompok wirausahawan yang tangguh agar dapat maju.

Maka, saya menyambut baik Rembug Nasional Saudagar dan Expo NU 2012 ini. Di pundak Saudara-Saudara, seluruh anggota Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN), kini tergantung sebuah tugas sejarah untuk menyalakan kembali semangat Nahdlatut Tujjar. HPN sebagai organisasi memang masih muda, kurang dari setahun usianya. Tapi, sebenarnya HPN punya akar sejarah sangat panjang  yang bisa Saudara-Saudara sambungkan kembali.

Saya senang melihat semangat ini digelorakan lagi di antara Kaum Nahdliyin.

Para hadirin yang saya cintai,

Saat ini masih banyak warga Indonesia yang tertinggal tingkat kesejahteraannya. Adalah tugas kita bersama untuk terus menolong dan membantu mereka. Ini merupakan tugas besar kita semua. Tidak mungkin ada satu pemerintahan yang mampu memikul tugas ini sendirian saja, tanpa bantuan dan dukungan seluruh komponen masyarakat.

Pemerintah kini sedang melaksanakan berbagai program untuk membantu mereka yang tertinggal. Program-program ini menempati prioritas yang paling tinggi di antara rencana kerja Pemerintah yang lain.

Program-program itu terbagi menjadi empat kelompok atau klaster. Klaster yang pertama adalah program-program berbasis keluarga seperti Program Keluarga Harapan (PKH), raskin, jamkesmas, beasiswa bagi anak-anak kurang mampu, dan lain-lain. Klaster kedua, adalah program-program berbasis komunitas seperti Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri. Program ini menampung kegiatan-kegiatan yang diusulkan dan dilaksanakan secara kolektif oleh masyarakat. Klaster ketiga berbasis usaha kecil menengah yang antara lain mengusung program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Dan klaster yang keempat terdiri dari program-program dengan sasaran khusus seperti penyediaan air bersih, perbaikan permukiman, peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan, masyarakat miskin kota, dan sebagainya.

Saya yakin, NU sebagai organisasi kaum muslim terbesar di Indonesia tentu berkepentingan agar program-program ini berhasil.

Di antara klaster-klaster yang saya sebutkan tadi, tentu ada  yang cocok dan sesuai dengan program NU maupun program Himpunan Pengusaha Nahdliyin, yang mayoritas anggotanya masih tergolong pengusaha kecil dan menengah. Di sinilah sinergi dapat digarap bersama.

Kaum Nahdliyin yang saya cintai,

Pengalaman menunjukkan bahwa salah satu upaya perbaikan kesejahteraan yang paling efektif dan cepat adalah melalui jalur pengembangan kewirausahaan. Pada jalur ini,  ibaratnya, kita memberikan kail kepada saudara-saudara kita yang tertinggal. Kail itulah yang akan mereka pakai untuk memperbaiki kesejahteraan. Kita tidak sekedar memberikan ikan yang sekali dimakan habis dan berikutnya menciptakan ketergantungan. Mendorong kewirausahaan berarti menciptakan kemandirian.

Saya melihat bahwa Rembug Nasional ini akan dapat menghidupkan kembali cita-cita Nahdlatut Tujjar, gerakan untuk memperkuat perekonomian rakyat melalui peningkatan kewirausahaan mereka.

Dan alangkah indahnya jika spirit wirausaha itu berpadu dengan nuansa religius yang menjadi ciri khas NU. Pengusaha yang religius tentu akan menjunjung tinggi etika bisnis. Pengusaha yang religius akan lebih suka bekerja dan berupaya keras daripada memilih jalan pintas yang melanggar kaidah-kaidah agama. Pengusaha NU yang religius tentu juga lebih welas asih dan peduli pada sesama. 

Para hadirin yang saya cintai,

Warga NU sesungguhnya tidak asing dengan kemandirian umat secara ekonomi. Pesantren yang merupakan fondasi utama Kaum Nahdliyin NU adalah contohnya. Banyak pondok pesantren yang benar-benar berdikari, mampu berdiri di atas kaki sendiri dalam  memenuhi kebutuhannya.

Para santri dapat menanam padi, berternak, sekaligus mengelola pondok sebagai wadah pendidikan dan dakwah.

Menurut hemat saya, satu agenda penting dari Rembug Nasional ini adalah mencari jalan bagaimana dapat memperluas dan melipatkan kisah-kisah sukses itu agar tak hanya muncul di satu-dua basis NU saja. Secara sistematis NU dan Himpunan Pengusaha Nahdliyin harus mampu menumbuhkan kemandirian itu dalam seluruh jaringan NU, sebagaimana NU sendiri tumbuh menjadi organisasi muslim terbesar di tanah air.

Saya berharap Rembug Nasional maupun Expo NU 2012 akan memunculkan berbagai gagasan baru. Dalam forum ini para peserta dapat saling mempelajari serta berbagi contoh-contoh keberhasilan untuk dibawa pulang ke pesantrennya masing-masing.

Ada satu hal yang ingin saya ingatkan bagi kita semua. Apapun kiat-kiat yang digunakan, kita tidak boleh lupa untuk selalu memegang beberapa pedoman dan prinsip kerja yang tak pudar oleh berlalunya zaman.  Prinsip itu berasal dari teladan junjungan kita Rasulullah sendiri: jujur (siddiq), tanggungjawab (amanah), transparan (tabligh) dan  bersikap profesional (fathonah). Prinsip-prinsip ini sebenarnya adalah rahasia sukses dalam kehidupan, di bidang apapun.

Kalau kita ingin sukses, ingin berhasil, prinsip-prinsip ini harus kita terapkan di dalam setiap bidang kehidupan, termasuk dalam mengelola unit usaha, baik di lingkungan pondok pesantren maupun di luar pesantren.

Saya yakin, Kaum Nahdliyin sejak dalam gemblengan sebagai santri sudah dilatih terbiasa dengan sikap istiqomah, teguh dan konsisten dalam menjalankan agama. Disiplin yang sama bisa diterapkan dalam berusaha. Dari yang kecil lama-lama bisa menjadi bukit, jika kita jujur, telaten, tulus dan tekun dalam menjalankan usaha. 

Satu kunci sukses lainnya adalah adanya sikap untuk membuka diri terhadap ide-ide baru, sikap mau belajar dari mereka yang berhasil, ada baiknya jika kita belajar dari kisah sukses beberapa pesantren yang berhasil memisahkan urusan pondok dengan pengelolaan unit bisnis, yang diserahkan ke kaum profesional. Misalnya, bisa saja pengelolaan usaha diserahkan kepada para alumni yang bekerja sebagai karyawan penuh waktu sehingga fokus dan mandiri dalam mengambil keputusan-keputusan untuk mengembangkan usaha.

NU memiliki modal dasar yang luar biasa untuk mengembangkan ini semua. Modal dasar itu adalah jaringan raksasa berupa ribuan pondok pesantren yang menyebar sampai ke pelosok-pelosok negeri. Jaringan ini sangat potensial menjadi basis sinergi yang luar biasa. Belum lagi jaringan para alumni yang entah berapa juta jiwa jumlahnya. Jika dapat memilih bidang usaha yang tepat, dan dikelola dengan tepat, dengan modal dasar jaringan yang luar biasa ini, saya sangat yakin para saudagar NU ini akan sukses dan berhasil.

Demikianlah sambutan saya.
Akhir kata, dengan mengucap Bismillahirromannirohim saya nyatakan Rembug Nasional Saudagar Nahdlatul Ulama dan Nahdlatul Ulama Expo 2012 secara remi dibuka. Semoga rahmat Allah SWT menyertai kita semua, seluruh warga NU, dan seluruh Bangsa Indonesia.
Selamat bekerja.

Terimakasih.
Wallahul Muwafiq ilaa aqwamith Thariq
Wasalamuallaikum wr. wb.

Wakil Presiden RI
Boediono




Bookmark and Share

Kalender Arsip

« Februari 2012
MSSRKJS
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
26272829