Selasa, 29 Maret 2011
PERISTIWA "23-F" DI SPANYOL, DRAMA POLITIK YANG MENAKJUBKAN
Pada waktu itu tuntutan publik untuk melaksanakan sistem demokrasi sangat kuat. Tetapi sebagian (besar) tentara dan kelompok kanan masih menginginkan sistem otoriter warisan Jendral Franco berlanjut terus. Namun, Pangeran Juan Carlos yang ditunjuk Jendral Franco sebagai penggantinya ternyata memilih jalur demokrasi bagi negaranya.
Bagi Spanyol, ini adalah eksperimen demokrasinya yang kedua, setelah eksperimen yang pertama gagal dan diganti dengan pemerintahan Jendral Franco. Eksperimen demokrasi yang kedua inipun pada awalnya berjalan tertatih-tatih. Ekonomi Spanyol, seperti halnya ekonomi di sejumlah negara pada waktu itu, mengalami resesi berat. Tingkat pengangguran sangat tinggi, mencapai 20%. Inflasi hingga 16% menggerus penghasilan masyarakat. Di atas semua itu, kekerasan oleh gerakan separatis Basque, ETA, semakin menjadi-jadi. Singkatnya, situasinya sama sekali tidak mendukung suatu demokrasi baru untuk bersemi.
Ketidakpedulian publik pun mulai tampak. Di sisi lain, ketidakpuasan juga makin merebak, terutama di kalangan tentara dan kelompok kanan. Dalam kegalauan politik itu terjadilah sebuah drama yang menakjubkan.
Madrid, 23 Februari 1981, pukul 18.30. Seorang letnan kolonel dari Garda Sipil bernama Antonio Tejero dengan 186 anak buahnya yang bersenjata lengkap menyerbu parlemen yang sedang bersidang. Dengan pistol di tangan kanannya dan menembakkan peluru ke udara, sang letnan kolonel naik ke podium. Ia menuntut dikembalikannya peran tentara dalam mengelola negara, seperti di masa Franco.
Tindakannya itu mendapatkan dukungan dari sejumlah satuan tentara di Valencia dan Madrid. Inilah yang kemudian dikenal dengan Peristiwa “23-F”. Tapi, dalam keadaan ekonomi yang begitu susah, publik seakan tak peduli.
Menurut ceritera, dengan peluru beterbangan di udara, semua anggota parlemen tiarap. Hanya tiga orang yang bergeming, yaitu Perdana Menteri Adolfo Suarez, Menteri Pertahanan Jendral Manuel Gutierrez Mellado, dan salah seorang anggota parlemen yang juga pemimpin senior Partai Komunis Santiago Carrillo. Kudeta itu nyaris berhasil dan eksperimen demokrasi nyaris gagal.
Untung dibalik itu semua masih ada komitmen kolektif untuk mempertahankan demokrasi, seperti yang disimbolkan oleh ketegaran ketiga tokoh tadi. Dan yang lebih menentukan adalah dukungan penuh Raja Juan Carlos kepada keberlanjutan demokrasi di Spanyol.
Setelah menduduki parlemen 18 jam, Tejero menyerah dan dalam proses selanjutnya mendapat ganjaran hukuman 30 tahun. Setelah peristiwa itu, demokrasi di Spanyol mengalami proses konsolidasi yang panjang dan tidak mudah, sampai akhirnya berhasil mengakar di negara itu.
Sekarang bangsa Spanyol menuai hasilnya dan memiliki sistem politik yang lebih terbuka, lebih adil dan lebih bebas daripada yang pernah dipunyai bangsa itu di sepanjang sejarahnya. Spanyol sekarang menjadi anggota Persemakmuran Negara-negara Demokrasi Eropa yang solid.
Pelajaran dari drama sejarah ini sangat jelas : bahwa demokrasi, terutama dalam masa transisi dan konsolidasi, perlu pengawal tangguh yang berkomitmen penuh terhadap keberlanjutannya. Buahnya baru dipetik oleh generasi berikutnya.
Drama tersebut dapat dibaca dalam buku yang baru terbit karangan sastrawan Spanyol Javier Cercas yang berjudul “The Anatomy of a Moment : Thirty - five Minutes in History and Imagination“, Bloomsbury (2011).
