Saturday, 18 November 2017
Inovasi Majukan Bangsa
15/10/2015 |
TrisaktiTrisakti

Jakarta. Majunya suatu bangsa tidak dilihat dari besar kecilnya, atau sumber daya alam (SDA)-nya. Indonesia memiliki SDA, tetapi sampai saat ini belum mengalami kemajuan. "Maka apa yang membuat negara maju? Semangat orang-orangnya, semangat untuk maju, semangat untuk berinovasi, dan semangat untuk usaha," kata Wakil Presiden (Wapres) ketika memberikan Kuliah Umum di Universitas Trisakti, Grogol, Kamis, 15 ktober 2015.

Wapres mencontohkan, Jepang dan Korea memiliki sda sedikit tetapi negaranya maju. Begitupun halnya Singapura dan Australia, kedua negara tersebut tergolong baru tetapi tetap maju karena sdmnya. Sementara Mesir dan India negara yang berdirinya lebih lama sampai saat ini belum maju.

Wapres mencermati, Indonesia belum mencapai kemajuan karena ekonomi di Indonesia belum berdikari. Berdikari secara ekonomi, kata Wapres, berarti berdiri di atas kaki sendiri, punya kekokohan, punya tanggung jawab, serta punya harga diri. Menurut Wapres, melemahnya ekonomi Indonesia disebabkan kesalahan dalam pendidikan terutama dalam hal cara pandang, bahwa Indonesia adalah negara yang kaya. Akibatnya, masyarakat tidak kreatif, cenderung menggali dan menjualnya, bukan dengan memproduksinya dengan cara yang baik. "Tidak punya inovasi itu," ucap Wapres.

Wapres mengakui, pemimpin turut andil dalam masalah ini. Oleh karena itu, lanjut Wapres, saat ini, pemerintah telah mengubah kebijakan dalam pengolahan sda. Bahan baku kini tidak dapat diekspor langsung, tetapi harus diproses terlebih dahulu.

Wapres meyakini bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar untuk maju. “Negeri ini bersyukur bahwa mempunyai suatu kekayaan alam yang baik, mempunyai penduduk cukup besar. Jadi potensi maju pasti mungkin. Upaya kita dengan mengurangi impor dan memperbesar ekspor dengan meningkatkan produktivitas. Untuk itu butuh entrepreneur dan semangat menyejahterakan rakyat," imbau Wapres.

Menurut Wapres enterpreneurship (wirausaha) yaitu menjadikan inovasi kenyataan, bukan hanya berbicara tetapi menjadikan nilai tambah. Seperti GoJek yang mampu menggabungkan ojek dengan teknologi, itu inovasi. "Kalau cari ojek ada di pangkalan, nah ini digabungkan, maka ini inovasi karena menggabungkan ojek dengan IT," ungkap Wapres.

Wapres menyoroti kendala anak-anak muda takut melakukan wirausaha karena terkendala dengan modal. Padahal modal adalah hal yang kedua, sementara yang pertama adalah ide. "Walaupun dikasih 1 miliar tetapi kalau tidak ada ide, hanya akan didepositokan saja," kata Wapres mencontohkan.

Jiwa wirausaha, ungkap Wapres, dapat muncul darimana saja, bahkan dari orang yang tidak lulus kuliah, seperti Bill Gates pemilik perusahan Microsoft dan Mark Zuckerberg pencipta Facebook. Keduanya memiliki inovasi tinggi dan mewujudkannya dengan jiwa entrepreneurship mereka meskipun mereka tidak menamatkan kuliah. Namun, bukan berarti Wapres menganjurkan kepada para mahasiswa yang hadir untuk berhenti kuliah. "Mereka yang tidak tamat saja hebat, apalagi yang sudah tamat," tegas Wapres.

Wapres menegaskan agar para mahasiswa yang saat ini sedang kuliah tidak hanya mengejar ijazah, tetapi ilmu yang nantinya dapat bermanfaat dan dapat dipraktekkan dalam kehidupan nyata.  Waprespun mengisahkan bahwa dirinya hanya melihat ijazah dua kali yaitu pada saat pencalonan Wakil Presiden. "Jadi artinya adalah kerja yang lebih baik, inovasi yang lebih baik, dan masa depan itu ada di tangan anda," pungkas Wapres.

Kuliah Umum yang disampaikan Wapres ini merupakan rangkaian acara Dies Natalis Universitas Trisakti yang ke-50 dengan mengambil tema Bisnis dan Kebijakan Publik Entrepreneurship dan Inovasi dalam Membangun Kemandirian Ekonomi. Acara dihadiri oleh 400 orang yang terdiri dari mahasiswa program diploma, S1, S2 dan dan S3, serta dosen-dosen Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti.

Menurut Wakil Rektor IV Universitas Trisakti Asri Nugrahanti, Pemilihan tema dilatarbelakngi oleh kapasitas dan kompetensi Wapres Jusuf Kalla sebagai ekonom dan birokrat berpengalaman. "Slogan Lebih Cepat Lebih Baik, perlu ditransformasikan kepada civitas academika," ujar Asri.

Dalam kesempatan tersebut Asri juga mengundang Wapres pada Dies Natalis Universitas Trisakti ke-50 untuk menerima gelar akademis doktor kehormatan Honoris Causa bidang ekonomi, yang akan diselenggarakan pada 30 November mendatang.

*****

Bertemu dengan Wakil Presiden Komisi Eropa Andrus Ansip