Saturday, 18 November 2017
Komitmen Dunia Hadapi Ancaman Terorisme Nuklir
02/04/2016 |

Washington DC. Ancaman terorisme nuklir dan radiologi menjadi salah satu tantangan terbesar bagi keamanan internasional, dan ancaman ini terus berkembang. Untuk itu para pemimpin negara yang hadir pada Nuclear Security Summit (KTT Keamanan Nuklir) ke-4 ini berkomitmen menjaga kondisi global yang damai dan stabil dengan mengurangi ancaman terorisme nuklir dan memperkuat keamanan nuklir.

“Hampir semua pembicaraan [delegasi] setuju menjaga nuklir material supaya tidak jatuh ke tangan teroris. Untuk itu  butuh arsitekturnya, kerjasamanya, protokolnya, pengawasnya. Harus dunia sepakat untuk itu,” jelas Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla ketika dijumpai awak media usai menghadiri KTT Keamanan Nuklir, di Walter E. Washington Convention Center, Washington DC, Jum’at (1/4/2016) .

Wapres mengatakan, walaupun saat ini dalam melakukan aksi pengeboman, teroris masih menggunakan bahan-bahan dasar seperti paku, efeknya sudah sangat membahayakan, lalu bagaimana kalau mereka menggunakan bahan nuklir. Itulah yang menjadi kekhawatiran dunia dan menjadi topik pembahasan KTT Keamanan Nuklir kali ini.

“Teroris itu [dalam melakukan pengeboman] sekarang pakai paku semua, dunia sudah takut, apalagi kalau dia pakai bahan nuklir. Di situ inti yang dibicarakan,” ungkap Wapres.

Berkumpulnya para pemimpin dunia, lanjut Wapres, bukan lagi membicarakan teknologi nuklir, namun bagaimana masing-masing negara mempunyai sistem yang sama dalam mengawasi penggunaan nuklir tersebut.

“Semua negara baik yang memproduksi, menyimpan, rangkaian pengawasannya harus bagus dan harus satu protokol dan sistem. Karena itu yang menakutkan. Yang menakutkan bukan teknologi nuklirnya karena teknologi ini bukan baru,” jelas Wapres.

“Rusia tidak hadir dalam pertemuan kali ini, pasti mempengaruhi. Tapi Rusia juga komit untuk menyetujui hal ini,” lanjutnya.

Menurut Wapres, sejak KTT Pengamanan Nuklir diselenggarakan pada 2010, Indonesia sudah menunjukkan komitmennya dalam melakukan pengawasan nuklir. Hal ini dibuktikan dengan bergabungnya Indonesia dalam Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA). Yakni, sebuah organisasi internasional yang bertujuan untuk mempromosikan penggunaan energi nuklir secara damai, dan menghambat penggunaannya untuk tujuan militer, termasuk senjata nuklir.

“Indonesia [berkomitmen] sejak awal ikut Summit ini. Karena itu indonesia ikut IAEA. Karena setelah Summit empat kali, maka keputusannya akan dilaksanakan PBB dan diawasi oleh IAEA dan INTERPOL. Selain  itu harus ada interkoneksi informasi. Seperti mau diangkut kemana. Jangan diangkut kemana larinya kemana,” seru Wapres.

Selain itu, Wapres menambahkan, Indonesia telah berkontribusi dalam merancang regulasi terkait pengawasan nuklir, sebagaimana yang disampaikan pada KTT dua tahun lalu di Den Haag, Belanda.

“Indonesia sudah menyumbang satu model legislasi di Den Haag. Itu jadi bahan kita untuk RUU-nya. Sekarang sedang dibahas,” ungkap Wapres.

Sementara, lanjut Wapres, dalam penggunaannya, Indonesia telah menurunkan campuran persentase bahan-bahan nuklir, sehingga tidak lagi membahayakan. Namun, pemakaiannya tetap harus dikontrol.

“Saya tadi baru dijelaskan bahwa kita sudah mendownblending dari 99,25 menjadi kurang 20 persen. Kalau dibawah 20 dia [bahan nuklir] tidak lagi berbahaya untuk menjadi bom. Tapi tetap berbahaya menjadi radio aktif,” terang Wapres.

Di Indonesia, Wapres mengatakan, bahan-bahan nuklir digunakan untuk pengobatan, seperti pengobatan kanker.

“Namanya PT. INUKI (Industri Nuklir Indonesia), BUMN, pemerintah punya. Jadi pemerintah harapkan kemajuannya. Seperti kalau orang berobat kanker di Singapura dengan radio isotope, itu buatan Indonesia tapi suntiknya di Singapura,” pungkas Wapres.

Dalam KTT Keamanan Nuklir 2016 ini para pemimpin dunia membuat beberapa kesepakatan yang terangkum dalam Nuclear Security Summit 2016 Communiqué. Kesepakatan tersebut antara lain, mendukung Perubahan Konvensi Perlindungan Fisik Material dan Fasilitas Nuklir 2005 dan mendorong ratifikasi lebih lanjut, serta berkomitmen pada perlucutan senjata nuklir, non-proliferasi nuklir dan penggunaan energi nuklir secara damai. Selain itu, mereka juga tidak akan menghambat hak suatu negara untuk mengembangkan dan menggunakan energi nuklir untuk tujuan damai, namun masing-masing negara setiap saat harus meningkatkan keamanan dari semua bahan radioaktif nuklir dan lainnya, termasuk bahan nuklir yang digunakan dalam senjata nuklir dan fasilitas nuklir.

Di dalam Communiqué para pemimpin yang hadir dalam KTT juga berkomitmen untuk menciptakan kondisi global yang damai dan stabil dengan mengurangi ancaman terorisme nuklir dan memperkuat keamanan nuklir di tingkat nasional, regional, dan global. Di samping itu juga mengimplementasikan Rencana Aksi dan mendukung inisiatif organisasi-organisasi internasional seperti PBB, Badan Energi Atom Internasional, INTERPOL, Initiatif Global untuk Memerangi Terorisme Nuklir, dan Kemitraan Global melawan Penyebaran Senjata dan Bahan-bahan Pemusnahan Masal. (KIP, Setwapres)

Bertemu dengan Wakil Presiden Komisi Eropa Andrus Ansip