Minggu, 28 Mei 2017
Peninjauan Pasca Banjir Bandang Bima
28/12/2016 |
IMG_0294

Bima-wapresri.go.id. Setelah menempuh penerbangan 2 jam 15 menit, Pesawat Kepresidenan BAe RJ-85 yang membawa Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla dan rombongan tiba di Bandara Sultan Muhammad Salahudin, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (28/12/2016), pukul 10.15 WITA.

Disambut oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat Zainul Majdi dan Wali Kota (Wako) Bima M. Qurais H. Abidin,  Wapres bersama rombongan kemudian menuju Posko Utama Banjir di Kantor Pemerintah Kota Bima yang berlokasi di Jl. Soekarno Hatta No. 2, Raba, Bima, NTB, untuk memimpin rapat koordinasi (rakor) penanganan pasca banjir bandang.

Dalam rakor, Wapres mendengar paparan tentang kondisi terakhir penanganan dari Wali Kota Bima, Danrem 162/WB Kolonel Inf Farid Makruf, dan Kepala BNPB Willem Rampangilei.

Wako Bima Qurais H. Abidin dalam paparan singkatnya mengatakan bahwa banjir yang melanda kota Bima diakibatkan oleh hujan yang ekstrim.

"Menurut BMKG memang hujannya sangat luar biasa selama 3 hari. Banjir pertama tanggal 21 jam 4 sore, surutnya sekitar jam 10 malam, seluruh fasilitas mati total,” tuturnya.

Namun, lanjutnya, sekarang aktivitas masyarakat secara umum 80 persen sudah berjalan terkecuali di perkampungan dan di pedalaman.

“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa, kami pastikan sekolah anak-anak tangal 23 sudah bisa jalan," kata Qurais menambahkan.

Selanjutnya Danrem 162/WB Kolonel Inf Farid Makruf memaparkan secara teknis penangan paska banjir dimulai dari penangan banjir pertama dan kedua. Farid menjelaskan, banjir yang datang memang cukup besar. Kondisi terparah ketinggian air bisa mencapai 3-5 meter. Itulah yang selama ini beredar baik di YouTube maupun di berbagai medsos dampaknya seperti stunami Aceh.

"Sedikitnya 5 kecamatan dan 38 kelurahan di Bima seluruhnya terkena dampak banjir. Memang tidak ada korban jiwa dan terhitung ada 731 bangunan yang rusak. Listrik dan jaringan komunikasi lainnya juga mati," jelas Farid.

"Kita coba sekali lagi menyelamatkan masyarakat karena dampaknya menjelang subuh dan masyarakat masih dalam gelap gulita. Lagi anak-anak kami Babinkamtimas dan Babinnsa tetap bekerja ekstra keras walupun rumah mereka juga terkena dampak bencana. Tapi kami tetap mengutamakan pelayanan kepada masyarakat," lanjutnya.

Farid menambahkan, sampai hari ke-6 bencana, lokasi pengungsian ada 27 titik, dan sampai hari ini ada 8181 pengungsi.

"Namun kami upayakan mereka terlayani dengan baik walaupun masih ada kekurangan terutama dalam hal sanitasi dan air bersih karena ini semua tersapu oleh banjir," ucap Farid.

Di akhir pemaparannya, Farid menyarankan untuk antisipasi kedepannya perlu adanya bendungan yang menahan laju air yang langsung kebawah kemudian juga ia merencanakan akan melaksanakan gerakan menanam pohon bersama masyarakat. Kemudian, Farid meminta untuk diadakan revitalisasi dan normalisasi aliran sungai karena banyaknya sampah yang menumpuk di dasar sungai.

Sementara, Kepala BNPB Willem Rampangilei dalam paparannya menjelaskan tanggap darurat yang dilakukan bersama aparat setempat guna memulihkan Kota Bima dengan prioritas pada percepatan pembersihan yang terkena dampak banjir.

“Kebutuhan-kebutuhan lain yang dperlukan oleh pengungsi semua sudah dipenuhi oleh Mensos, yaitu berupa perlengkapan perempuan anak-anak termasuk seragam sekolah. Jadi dapur umum semua dari Mensos sudah tercukupi dengan baik. Dengan demikian perintah Bapak (Wapres) tentang pelayanan dan penanganan pengungsi sudah kami lakukan secara maksimal, lalu percepatan-percepatan untuk pembersihan juga sudah kami lakukan," tutur Willem.

Sebelum memulai arahannya, Wapres menyampaikan rasa duka atas musibah bencana banjir bandang yang telah memporak porandakan Kota Bima sehingga mengganggu aktivitas keseharian masyarakat.

“Pertama tentu kami mengucapkan rasa berduka atas masalah ini. Ini fenomena yang banyak terjadi, beberapa minggu yang lalu Aceh diguncang gempa. Memang setiap bencana memiliki ciri masing-masing dan akibat masing-masing,” tutur Wapres.

Wapres juga mengapresiasi kerja keras semua pihak dalam menangani bencana yang mengakibatkan kotor dan rusaknya infrastruktur dan Kota Bima.

“Saya berterimakasih atas segala upaya baik dari Pemda,TNI dan Polda, tentu atas upaya dan pelayanannya," kata Wapres.

Dalam jangka pendek untuk pemulihan Kota Bima, Wapres memerintahkan segera melakukan percepatan proses pembersihan supaya pengungsi bisa kembali ke rumahnya, penambahan tanki air untuk memenuhi penyedian air bersih, kemudian pengurasan sumur-sumur, karena jika tidak segera dilakukan akan mahal biayanya.

“Memang kalau banjir itu biasanya mau dibersihkan tetapi terkendala oleh air dan peralatan, tapi karena itu maka upaya semakin cepat maka semakin baik tetapi kalu lambat biaya makin banyak," ujar Wapres.

Kemudian, lanjutnya, jangka menengah Pemda dan Kemen PU agar melakukan perbaikan infrastruktur.

“Sepanjang jalan, saya tidak melihat ada saluran air," ungkap Wapres.

Sedangkan jangka panjang, menurut Wapres, segera melakukan reboisasi penaman kembali.

“Kita memutuskan untuk menghijaukankan hutan di bukit-bukit yang ada di sekitar kota, itu kaya seperti yang kita putuskan di Bandung," imbuhnya.

Usai memimpin rakor, Wapres bersama rombongan langsung meninggalkan posko utama menuju Rumah Sakit TNI di Parugan Nae untuk menjenguk Korban dampak banjir. Setelah itu Wapres menuju areal Masjid Sultan Muhammad Salahudin Bima untuk meninjau posko logistik tempat dapur umum dan pengungsi sekaligus melakukan sholat Dzuhur berjamaah.

Tampak mendampingi Wapres, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa yang sudah 3 hari berkantor di kota Bima , mantan Ketua MK Hamdan Zoelva, Kepala BNPB Willem Rampangilei, Kepala Sekretariat Wakil Presiden Mohamad Oemar, Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan Bambang Widianto, dan Dirjen Sumber Daya Air Kementerian PU PERA, Imam Santoso. (KIP, Sewapres) .
Jamuan Makan Malam bersama Raja Carl XVI Gustaf