Kamis, 25 Agustus 2016
Pers : Mata, Telinga dan Mulut Suatu Bangsa
09/02/2015 |
hpn2_web

Batam. Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla menyampaikan ucapan selamat kepada insan pers di seluruh Indonesia, karena Senin 9 Februari 2015 bertepatan dengan Puncak Peringatan Hari Pers Nasional 2015 yang digelar di Hotel Harmoni One One Batam, Kepulauan Riau. “Selamat hari pers pada hari ini. Hari yang penting untuk kita evaluasi dan sekaligus untuk melihat apa yang dapat kita lakukan ke depan dan apa yang telah dilakukan yang lalu,” ucap Wapres memulai sambutan.

Pers tentulah sesuatu yang sangat penting untuk negara apa saja, lanjut Wapres, karena pers adalah mata, telinga dan mulut bangsa itu. “Tanpa telinga, mata dan mulut, maka suatu bangsa tidak bisa mempunyai perhatian dan sekaligus diperhatikan. Oleh karena itu alangkah pentingnya fungsi-fungsi itu,” ujar Wapres.

Menurut Wapres, pers tentunya memiliki fungsi yang lain, selain memberikan informasi, pendidikan, dan hiburan kepada kita semuanya. Sejarah pers kita adalah sejarah yang panjang. Sejarah pers selalu mempunyai dua faktor, yakni faktor situasi keadaan bangsa dan faktor teknologi. “Pada saat awal, pers nasional tentulah bagaimana memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan selanjutnya bagaimana kita berjuang untuk melanjutkan kemerdekaan dan juga pembangunan bangsa,” tutur Wapres.

Penyebab berubah-ubahnya situasi saat ini adalah masalah politik. Wapres menjelaskan bahwa kadangkala pers tergantung pemerintah, sekarang kadang-kadang pemerintah yang tergantung pada pers. “Tentunya hal ini sebagai pertimbangan-pertimbangan kita semua untuk melanjutkan kebersamaan kita,” kata Wapres.

Teknologi, menurut Wapres, adalah salah satu komponen yang sangat berpengaruh pada kita semuanya. Kalau dulu berita adalah apa yang telah terjadi, sekarang berita adalah apa yang sedang terjadi. “Berita hari ini kita baca sekarang ini, tentu mempunyai sesuatu hubungan yang erat bagaimana teknologi menjadi bagian dari media itu sendiri,” ucap Wapres.

Media pun di samping menjadi hal yang mencerahkan bangsa, media merupakan sebuah industry. Memang menjadi indsutri sekaligus objektif tidaklah mudah. Tetapi menurut Wapres, sebagai media yang mencerahkan bangsa haruslah bersifat objektif. “Media sebagai industri haruslah menguntungkan. Bagaimana keduanya harus bersatu, menjadi baik dan sekaligus dapat berkembang,” ucap Wapres.

Tema HPN 2015 adalah Pers Sehat Bangsa Hebat, tetapi bagi Wapres jika kata-kata dalam tema itu dibalikkan juga merupakan pernyataan yang baik. “Bangsa hebat pers akan sehat,” kata Wapres.

Dalam pemikiran Wapres, pers yang sehat bermakna bermakna bahwa pers akan memberikan mata telinga yang objektif kepada bangsanya. Untuk membuatnya menjadi baik bagi kita semuanya, pers dapat mempersatukan bangsa. Tetapi pers juga dapat merenggangkan bansa ini. “Tentu harapan kita pers yang mempersatukan bangsa ini, mendamaikan bangsa ini,” ungkap Wapres.

Oleh karena itulah sekarang telah banyak berubah, tidak lagi bad news is a good news, tapi good news is a good news. “Itu harapan kita semuanya, namun dalam kesempatan ini pula kita mempunyai banyak kepentingan dalam memajukan bangsa ini,” pesan Wapres.

Dalam media, dalam suasana alam yang terbuka ini, kata Wapres, kita semua harus serba terbuka, kita memahami fungsi-fungsi pers itu sendiri yang menyebarluaskan apa yang kita lakukan dan apa yang tidak kita lakukan. “Karena itulah fungsi dari kta semua untuk saling mengingatkan dan saling menginformasikan,” ucap Wapres.

Pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa kepada rakyatnya tanpa media pers yang dapat memahami situasi itu. Tentu begitu juga, apabila tidak ada masalah, pers juga tak ada berita. “Jadi apabila ada sedikit riak-riak politik, anggaplah itu untuk kehidupan bersama,” kata Wapres.

Jika kita harus membuat keputusan yang penting, maka kita harus tegas dan tegar menghadapi hal-hal tersebut. Media juga tentunya sewajarnya memperhatikan hal-hal yang apa yang kita ingin capai, ucap Wapres, pada dsarnya utk kepentingan bangsa ini. “Bangsa yang maju adalah bangsa yang mempunyai semangat,” kata Wapres.

Sebelumnya, Ketua Dewan Pers Bagir Manan mengatakan bahwa pers berperan besar dalam perjalanan bangsa Indonesia, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan. Konsekuensi demokrasi atas dasar persamaan antara penyelenggara negara dan pers, sehingga timbullah saling percaya, saling jujur dan terbuka. Untuk itu, Bagir Manan mengharapkan agar pers tidak dibiarkan berspelkulasi.

Bagir Manan mengingatkan pembenaran tidak selalu berarti kebenaran, pembenaran menjadi elemen untuk membenar-benarkan sesuatu. "Tidak ada yang benar kecuali kebenaran itu sendiri," ucap Bagir Manan. Melalui HPN ini, Bagir Manan meminta agar dilakukan penolakan terhadap pers abal-abal. Ia pun meminta agar pers tidak terlibat dalam hiruk pikuk yang terjadi saat ini.

Penanggungjawab HPN 2015 yang juga Ketua Umum PWI Margiono melaporkan bahwa HPN 2015 dihadiri oleh wartawan dari negara-negara di kawasan ASEAN. Selain itu diisi oleh berbagai macam kegiatan seperti pameran, hiburan untuk rakyat di Tanjung Pinang dan Batam yang dihadiri puluhan ribu masyarakat, serta studi banding peserta ke Singapura, .

Tampak hadir pada acara ini Ketua MPR Zulkifli Hasan, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir, Menteri Koperasi dan UMKM AAGN Puspayoga, Menteri Pariwisata Arief Yahya, dan Gubernur Kepulauan Riau M Sani selaku tuan rumah. Juga hadir para Gubernur yang hadir beberapa provinsi, asosiasi televisi swasta, serta para insan pers dari seluruh Indonesia. Tema dari HPN 2015 adalah Pers Sehat Bangsa Hebat.

Dalam kesempatan ini, Wapres menerima buku-buku karya Wartawan Indonesia. Selain itu, Wapres menyaksikan penandatanganan Kesepakatan Bersama antara Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi dengan Gubernur Jawa Tengah dan Ketua Umum PWI mengenai Pengembangam Pendidikan Tinggi Jurnalisme di Semarang Provinsi Jawa Tengah; dan penandatanganan Nota Kesepahaman mengenai Pendidikan dan Pelatihan Wartawan serta Media Literasi antara PWI dengan Bank Rakyat Indonesia, Garuda Indonesia, Transcorp Media, Artha Graha Peduli, dan Lippo Group.

****

KTT ASEM ke-11, Ulan Bator, Mongolia.