Jakarta, wapresri.go.id – Pada malam ke-23 Ramadan 1445 H atau Selasa (02/04/2024), Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin beserta Ibu Hj. Wury Ma’ruf Amin menunaikan salat Isya dan Tarawih berjemaah di Masjid Istiqlal, Jakarta. Selain itu, pada kesempatan ini Wapres juga sempat memberikan tausiah kepada para jemaah sebelum pelaksanaan salat Tarawih.

Dalam tausiahnya di masjid yang dinobatkan sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara ini, Wapres menerangkan tentang keutamaan beberapa ibadah di bulan Ramadan, termasuk keistimewaan ibadah di sepuluh malam terakhirnya.

Pertama, Wapres menyampaikan mengenai kelebihan orang yang berpuasa di bulan Ramadan dibandingkan dengan ibadah lainnya. Menurutnya, orang yang berpuasa dengan penuh keimanan akan mendapatkan pahala yang tidak terhingga dari Allah SWT.

“Rasulullah mengatakan amalnya manusia, anak adam, dilipatkan oleh Allah, semua amal manusia ini, amal kita dilipatkan. Satu kebaikan ada yang sampai 10 kali lipat, sampai 700 kali lipat. Apalagi di bulan Ramadan itu lebih besar lagi. Allah menyatakan kecuali puasa,” terang Wapres.

“Jadi puasa tidak termasuk yang 10 kali lipat sampai 700 kali lipat. Puasa itu untuk saya [kata Allah]. Dia [orang yang berpuasa] meninggalkan makannya, meninggalkan minumnya, meninggalkan syahwatnya itu karena Aku. Jadi puasa itu kalau begitu berapa (pahalanya)? Ukuran pahala puasa itu berarti tidak terhingga. Bukan 10, bukan 700. Tidak terhingga. Sekehendak Allah SWT,” imbuhnya.

Mengapa ibadah puasa itu sangat spesial, tutur Wapres, karena pelaksanaannya samar atau tidak terlihat. Tidak seperti ibadah lain misalnya salat, zakat, dan haji yang pelaksanaannya dapat dilihat manusia, sehingga pantas apabila puasa menjadi sangat spesial di mata Allah SWT.

“Antara orang puasa dengan orang tidak puasa enggak beda. Kalau orang salat kelihatan rukuk, sujud. Orang zakat kelihatan ngasih, ada yang nerima. Orang haji, waduh itu kadang-kadang diarak gitu kan, dijemput diantarkan. Kalau puasa tidak ada. Makanya orang puasa atau tidak puasa itu tidak ada bedanya. Oleh karena itu, pantas kalau puasa itu diberi pahala ibadah yang sangat spesial,” urainya.

Kedua, Wapres menerangkan tentang besarnya pahala memberi makan orang yang berbuka puasa. Menurutnya sebagaimana sabda Rasulullah, orang yang memberi makanan (takjil) untuk orang berbuka puasa akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa tanpa dikurangi sedikitpun. Bahkan apabila setiap tahun ia memberi takjil untuk 36 orang maka seperti berpuasa sepanjang masa.

“Kenapa begitu? Kalau 36 orang setiap tahun kalau dikali 10 saja 360 orang. Berarti sama saja dia berpuasa 360 hari. Berarti kan satu tahun selesai. Tahun berikutnya 36 lagi sama dengan puasa setahun. Jadi kalau setiap tahun ngasih iftar orang berbuka puasa 36 orang saja, sama dengan puasa sepanjang hidupnya dia itu,” terang Wapres.

“Kalau lebih banyak lagi, kalau dia memperbanyak lagi memberi iftar orang orang puasa itu bukan hanya 36 orang, tapi ratusan [misalnya] maka Allah mencatat dia seperti orang yang puasa bermasa-masa, tidak terhitung, berabad-abad,” tambahnya.

Ketiga, Wapres menjelaskan mengenai keutamaan ibadah di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, terutama karena adanya malam Lailatul Qadar atau malam yang lebih baik dari malam 1000 bulan.

“Kenapa dinamakan Lailatul Qadar, banyak istilah. Ada yang mengartikan malam yang punya nilai tinggi karena waktu diturunkannya Al Qur’an, diturunkannya malaikat, dan turun berkah, rahmat. Karena Lailatul Qadar itu [memiliki keistimewaan] pahala yang luar biasa sama [atau setara] dengan 1000 bulan kalau kita menggunakannya dengan baik,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, kata Wapres, malam-malam terakhir bulan Ramadan sangat istimewa karena banyak malaikat yang turun ke bumi untuk mendengarkan suara terindah yang tidak ada di langit. Adapun suara tersebut adalah suara tangis orang berdosa yang sedang bertaubat menyesali dosa-dosanya.

“Tangisan orang yang berdosa itu lebih disukai oleh Allah daripada teriakan orang bertasbih, itu hadis qudsinya begitu. Nah, pada malam-malam akhir Ramadan itu banyak orang berdosa yang menangis, kata malaikat, mari kita turun ke bumi, mari kita dengarkan sesuatu yang dicintai Allah daripada tasbih kita,” ungkap Wapres.

“Kalau di langit itu, tidak ada orang menangis, adanya orang yang bertasbih saja. Orang yang menangis itu di bumi karena di sana malaikat semua tidak ada yang maksiat,” sambungnya.

Namun demikian, menurut Wapres, suara tangisan tersebut tidak hanya sebatas tangisan orang berdosa yang bertaubat, tetapi juga tangisan orang saleh yang takut ibadahnya tidak diterima oleh Allah SWT.

“Jadi yang menangis itu bukan hanya orang yang meninggalkan salat [misalnya], yang dulunya berdosa, tapi orang yang justru makin banyak amalnya, tetapi makin takut kepada Allah,” sebutnya.

Selain itu, sebut Wapres, malaikat turun ke bumi pada malam-malam akhir bulan Ramadan, juga bukan hanya untuk mendengarkan suara terindah, tetapi juga untuk melihat pemandangan terindah yang tidak ada di langit, yakni pemandangan orang kaya dermawan yang memberi sedekah kepada orang miskin.

“Dan yang tidak ada pemandangan di langit itu, orang-orang kaya yang memberikan sodaqoh, kemudian mereka memberi makan orang-orang miskin, orang-orang miskin memakan, berbuka, bersahur daripada sadaqahnya orang kaya [tersebut], itu juga yang ingin dilihat oleh para malaikat, sebab di langit tidak ada orang sedekah-sedekah,” pungkasnya.

Bertindak sebagai imam salat Isya dan Tarawih pada kesempatan ini, H.A. Husni Ismail, dan bertugas sebagai Bilal, H. Saiful Anwar. (EP-BPMI Setwapres)