Lemahnya ekonomi dunia tentu saja mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Sumber daya alam seperti batubara, minyak kelapa sawit, dan karet, yang merupakan ekspor utama Indonesia juga terkena dampaknya, baik volume maupun harganya mengalami penurunan. Ini berarti nilai ekspor turun, sehingga pendapatan masyarakat juga rendah. Jika sebelumnya pemerintah Indonesia optimis akan mencapai pertumbuhan ekonomi 7% dalam dua tahun, quartal pertama tahun ini baru mecapai 4,7%. Pernyataan tersebut di sampaikan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla pada acara Japan-ASEAN Media Forum di Kantor Wakil Presiden, Senin, 3 Agustus 2015.

Selain melemahnya ekonomi dunia, faktor bencana alam juga dapat mempengaruhi ekonomi Indonesia. Wapres mengatakan, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), el-nino diprediksi akan terjadi di bulan Agustus – September. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi produk-produk pertanian. “Ini masalah alam, kita tidak bisa merubah situasi, kecuali kita dapat mempersiapkan bagaimana menghadapi situasi apabila hal-hal buruk terjadi,” kata Wapres.

Untuk itu, lanjut Wapres, tantangan yang dihadapi saat ini adalah bagaimana melanjutkan program pembangunan ekonomi, khususnya menghadapi tantangan ekonomi internal dan bencana alam. Menurut Wapres, pemerintah memiliki kebijakan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, yaitu, mempercepat pendapatan dan anggaran negara, menggunakan anggaran untuk program-program infrastruktur, meningkatkan pertanian, dan memberikan kemudahan fasilitas bagi investor asing untuk berinvestasi di Indonesia. “Ini kebijakan kita untuk memperbaiki situasi ini,” ungkap Wapres.

Di sektor energi, Wapres menambahkan, pemerintah saat ini sedang gencar mempercepat pembangunan listrik 35.000 MW, selain itu juga mempercepat pembangunan pelabuhan. “Hal ini sangat penting dan sedang kita lakukan,” kata Wapres.

Walaupun Indonesia menghadapi berbagai tantangan, Wapres mencatat, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk mengundang investor asing. Diantaranya, jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa, market yang besar, meningkatnya kelas menengah. “Sektor yang menumbuhkan sektor ekonomi kita adalah kelas menengah sekitar 70.000, 3 kali lebih banyak dari Malaysia, dan 2 kali dari Thailand. Ini berarti potensi lebih banyak dibandingkan negara-negara lain,” jelas Wapres.

Selain itu, kata Wapres, Jepang dan Tiongkok tengah bersaing dalam mencari target investasi. Di Asia, target investasi pertama adalah Indonesia, kemudian Thailand dan Vietnam. “Oleh karena itu, persaingan antara Jepang dan Tiongkok tentunya akan memberikan keuntungan bagi negara tujuan investasi kedua negara ini,” ucap Wapres.

Dalam kesempatan itu, Wapres juga menyinggung masalah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Menurut Wapres, dengan adanya MEA ini, maka Indonesia menjadi bagian dari perdagangan bebas, bukan hanya bagi ASEAN tetapi juga dunia. Daya saing menjadi faktor penentu dalam perdagangan bebas ini, dan Indonesia telah memilikinya. “Indonesia memiliki daya saing dalam hal populasi, market dan sumber daya alam,” pungkas Wapres.

Japan-ASEAN Media Forum adalah forum pertemuan para jurnalis, pemimpin redaksi, editor, dan akademisi antara negara-negara ASEAN, dan negara-negara mitra ASEAN seperti Jepang, India, dan Tiongkok. Di awal pertemuan, Pemimpin Redaksi The Jakarta Post Dymas Meidyatama Suryodiningrat, menyampaikan, dalam dua hari ini para penggiat media tersebut telah berkumpul membahas isu-isu regional dan kesempatan kerjasama ASEAN dengan negara-negara mitra.

Forum ini didukung oleh The Japan Foundation Asia center, Jepang, dan partisipan yang hadir datang dari Indonesia, Kamboja, Singapura, Filipina, Thailand, Vietnam, dan juga perwakilan dari India, Tiongkok, dan Jepang. Dalam forum dilakukan juga sesi tanya jawab membahas isu-isu terkini. (Siti Khodijah)