Jakarta, wapresri.go.id – Saat ini, selain menghadapi tantangan kesehatan karena pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), Indonesia juga menghadapi tantangan lain, seperti tantangan ekonomi dan hantaman informasi yang begitu besar. Hantaman informasi ini kerap menyebabkan kesamaran antara informasi yang benar dan salah yang berpotensi menimbulkan perpecahan di masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif seluruh lapisan masyarakat, termasuk para ulama, untuk menjaga keselamatan negara dan rakyat Indonesia dari bahaya isu-isu yang tidak bertanggung jawab.

“Selain kita menjaga dan mengobati dari wabah yang bahayanya sudah kemana-mana, yang harus kita jaga adalah keselamatan negara secara lebih besar. Dari apa..? Dari upaya-upaya orang yang menjadikan wabah ini, mengeksplorasi wabah Covid ini dan juga kesulitan ekonomi dijadikan alat untuk membangun distrust terhadap pemerintah, membangun ketidakpercayaan. Isu Covid, isu kesulitan ekonomi ini oleh pihak-pihak tertentu dijadikan upaya untuk men-distrust, memberikan ketidakpercayaan kepada pemerintah. Ini kewajiban kita para ulama untuk menjaga dari upaya-upaya tersebut,” tegas Wakil Presiden (Wapres) K. H. Ma’ruf Amin pada acara Shalawat Nariyah dan Tahlil untuk Keselamatan Bangsa dari Wabah yang diselenggarakan oleh Nahdlatul Ulama (NU) melalui konferensi video di kediaman resmi Wapres, Jalan Diponegoro Nomor 2, Jakarta, Senin (26/07/2021).

Lebih lanjut Wapres menyampaikan bahwa menjaga negara dari upaya-upaya yang tidak bertanggung jawab termasuk ke dalam tanggung jawab keagamaan. Oleh karena itu, Nahdlatul Ulama sebagai salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia wajib untuk menjalankan tanggung jawab ini.

“Melalui pertemuan ini kita ingin lebih besar lagi berperan dalam menjalankan misi ke NU-an kita dalam rangka mas’uliyah diniyah (tanggungjawab keagamaan) yang termasuk didalamnya mas’uliyah wathaiyah (tanggung jawab kebangsaan) dan mas’uliyah diniyah,” ungkap Wapres.

Disisi lain, Wapres pun menekankan bahwa selain melalui pendekatan secara lahiriyah, diperlukan juga upaya-upaya batiniyah melalui doa dalam menghadapi hantaman informasi ini. Sehingga, seluruh informasi yang diperoleh agar dipilah dengan baik atas pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala.

“Rasulullah mengajarkan kita doa allahumma arinal haqqa haqqa war zuqnattiba’ah, wa arinal bathila bathila warzuqnajtinabah. Perlihatkanlah kepada kami ya Allah yang benar itu nampak benar, berikan kemampuan kami untuk mengikutinya. Wa arinal bathila bathila, dan perlihatkanlah kepada kami yang bathil, yang bohong itu kelihatan bathil, warzuqnajtinabah, berikanlah kami kemampuan untuk menghindarinya,” urai Wapres.

Menutup sambutannya, Wapres pun menyampaikan apresiasinya atas kontribusi yang telah diberikan NU bersama-sama pemerintah dalam menanggulangi pandemi Covid-19 beserta dampaknya.

“Saya ingin menyampaikan terima kasih atas nama Pemerintah karena NU terus berusaha untuk bersama-sama menanggulangi Covid-19 pada khususnya dan tentu juga kita panjatkan doa dalam rangka menanggulangi yaitu musibah-musibah, fitnah-fitnah, maupun cobaan-cobaan lainnya,” pungkas Wapres.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini melaporkan, bahwa acara Shalawat Nariyah dan Tahlil untuk Keselamatan Bangsa dari Wabah ini diselenggarakan sebagai upaya batiniyah untuk memohon pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala atas musibah pandemi yang melanda Indonesia dan dunia. Di sisi lain, ia juga memaparkan upaya-upaya fisik yang telah dilakukan NU dalam mendukung pemerintah menanggulangi Covid-19 diantaranya dengan berperan aktif dalam penyaluran dan pemberian vaksinasi kepada masyarakat melalui Satuan Tugas (Satgas) NU.

“Mudah-mudahan dengan ikhtiar dan doa ini Allah segera mengangkat wabah ini dan kita akan segera hidup dalam kehidupan yang normal,” tutur Helmy.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan Shalawat Nariyah oleh Habib Achmad Edrus Al-Habsy dan pembacaan doa oleh jajaran Pimpinan NU serta para Pimpinan Pondok Pesantren NU yang tersebar di seluruh Indonesia.

Hadir secara virtual dalam acara ini diantaranya Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Miftachul Akhyar, Ketua Umum Pengurus Besar NU Said Aqil Siradj serta seluruh pengurus cabang NU daerah se-Indonesia. Sementara Wapres didampingi oleh Staf Khusus Wapres Masduki Baidlowi. (NN/AS, BPMI-Setwapres)