Jakarta, wapresri.go.id – Kemitraan strategis, peluang kerjasama hingga kebijakan Uni Eropa terhadap komoditas minyak kelapa sawit di bahas saat Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla menerima David Mcallister Ketua Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Eropa beserta anggotanya di Kantor Wapres Jl.Merdeka Utara pada Rabu, 9/5.

“Minyak sawit/Crude Palm Oil (CPO) memiliki fungsi strategis bagi Indonesia, karena hasil perkebunan ini tidak sekedar sebagai komoditas, melainkan juga sebagai industri yang dapat menyerap jutaan tenaga kerja bagi masyarakat di Indonesia,” ujar Wapres.

Karenanya, lanjut Wapres, CPO sangat penting untuk dijaga dan ditingkatkan. “Agar tidak terjadi masalah yang dapat menimbulkan kemiskinan di masyarakat akibat pengangguran,” imbuhnya.

Diawal pertemuan, Wapres menyampaikan ucapan terima kasih atas kunjungan Parlemen Eropa tersebut, serta menyatakan bahwa kunjungan ini sangat penting bagi Indonesia dan Eropa.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kunjungan Delegasi Parlemen Eropa ke Indonesia. Kunjungan ini sangat penting bagi Indonesia dan Eropa untuk meningkatkan kerjasama dalam berbagai bidang khususnya ekonomi dan investasi,” ungkapnya.

Selanjutnya Wapres memaparkan berbagai hal mengenai Indonesia secara umum, termasuk kondisi sosial politik yang sangat kondusif. Kondisi itu menurut Wapres, tidak terlepas dari peran kerjasama berbagai elemen masyarakat dan pemerintah yang menjunjung tinggi toleransi, dan dilatarbelakangi oleh akar budaya saling pengertian.

“Indonesia terdiri dari beragam suku, agama, ras, dan golongan, namun tetap rukun dan damai dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tuturnya.

Di pertemuan itu, Wapres menceritakan bahwa Indonesia berpenduduk Muslim terbesar yang paling damai dan merupakan satu-satunnya negara yang pemerintahannya berbentuk republik. Berbeda dengan negara-negara Islam lainnya yang berbentuk Republik seperti di Timur Tengah namun selalu dilanda konflik, contohnya negara Libya, Irak, Suriah, Palestina dan sebagainya, sementara Arab Saudi tidak karena Monarchi. Timbulnya konflik, dalam pandangan Wapres, lebih dilatarbelakangi oleh adanya kesenjangan atau ketidakadilan di masyarakat. Seperti konflik di Poso Sulawesi Selatan, Ambon, Aceh, ataupun di Myanmar yang berselisih dengan Suku Rohingya.

“Karenanya Pemerintah Indonesia selalu berupaya menghilangkan berbagai kesenjangan yang terjadi di masyarakat, termasuk ekonomi dan sosial,” pungkasnya.

Acara dihadiri oleh dua puluh tiga orang Delegasi Parlemen Eropa. Sementara Wapres didampingi oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Kepala Sekretariat Wapres Mohamad Oemar, dan Tim Ahli Wapres Sofjan Wanandi. (SY-KIP Setwapres).