Jakarta-wapresri.go.id. Muktamar ke-VIII Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mampu menghasilkan Islah, yang dapat menyelesaikan konflik kepengurusan beberapa waktu lalu. Islah merupakan nilai yang positif, karena diharapkan dapat meningkatkan stabilitas politik di dalam negeri.

“Tujuannya ialah bagaimana kemakmuran dan keadilan bangsa ini dapat kita capai,” demikian pesan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla dalam sambutannya saat menutup Muktamar ke-VIII PPP di Asrama Haji Pondok Gede, Bekasi, pada Minggu (10/04/2016)

Dengan nada bercanda, Wapres mengapresiasi langkah PPP untuk menyelesaikan konflik berkepanjangan dengan muktamar islah, sehingga ke depan diharapkan dapat menjadi partai yang solid dan mampu memberikan kontibusi pada pembangunan bangsa.

“Karena saya pikir, semuanya apabila kita musyawarahkan dengan baik, dengan arif maka pasti semua masalah-masalah dapat kita selesaikan. Apalagi namanya saja Partai Persatuan, masa mau pecah, begitukan. Bukan partai pecah Indonesia begitukan,” canda Wapres disambut tawa hadirin peserta muktamar.

Masih melanjutkan gurauannya, Wapres mengibaratkan perseteruan kepengurusan PPP dalam muktamar hingga terjadi muktamar ke-VIII untuk ketiga kalinya ini, dengan analogi matematika melalui rumusan A+B=C.

“Karena ada A, B, dan C begitukan. Tapi itu sama, partai saya juga ada A, B, C-nya. ┬áMudah-mudahan tidak ada D-nya. Sudahlah, ini yang terakhir 8 C,” gurau Wapres, kembali ditimpali dengan tawa hadirin.

Kemudian Wapres juga mengingatkan agar muktamar islah ini menjadi akhir dari perdebatan panjang selama ini, dan meminta agar seluruh komponen partai bersatu untuk tujuan yang lebih besar, yakni kepentingan bangsa.

“Janganlah kita menghabiskan energi kita untuk berdebat, bercerai, saling membuat alasan atau pun menghabiskan segala kemampuan, dana kita hanya untuk bermuktamar-muktamar yang tentu tidak ada habis-habisnya,” seru Wapres.

Menurut Wapres, demokrasi perlu dibangun dengan pilar-pilar yang kokoh, salah satunya partai politik. Indonesia akan maju bila memiliki partai politik yang mampu membangun bangsa dengan pemikiran kebangsaan yang baik.

“Karena itulah, maka setiap demokrasi yang baik, harusnya didahului dengan partai yang solid, dan partai mempunyai pikiran-pikiran kebangsaan yang baik,”tutur Wapres.

Lebih jauh, Wapres menilai tantangan PPP saat ini dalam berdemokrasi, yakni memperjuangkan kebangsaan dan keislaman. PPP lanjut Wapres, diharapkan bukan hanya mampu menarik simpati rakyat dengan kemenangan secara politik, namun lebih dari itu harus mampu mendorong masyarakat berdaulat secara ekonomi sehingga tercipta kesejahteraan dan keadilan.

“Itu hal yang harus kita perjuangkan, bukan hanya bagaimana menang pemilu, bagaimana menang pilkada. Buat apa kita semuanya menguasai politik, tapi penguasaan ekonomi rendah, maka akhirnya keadilannya menjadi rendah, akan menimbulkan instabilitas bangsa ini

Menutup sambutannya, sekali lagi Wapres mengajak seluruh peserta muktamar untuk bersatu membangun bangsa, di tengah ketidakpastian dunia saat ini, seperti ancaman terorisme global, ancaman perang nuklir dan keterlambatan ekonomi dunia.

“Ini semua memberikan kita keyakinan, bagaimana memperkuat pondasi bangsa yang baik, dan bangsa yang baik pondasinya adalah memperkuat sistem kebangsaannya yang baik,” pungkas Wapres. (KIP, Setwapres)