Manado, wapresri.go.id – Di malam yang ke-24 Ramadan 1445 H, Rabu (03/04/2024), Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin menunaikan ibadah salat Isya dan tarawih berjamaah di Masjid Agung Awwal Fathul Mubien, Jl. Hasanuddin No. 34, Kec. Tuminting, Kota Manado, Sulawesi Utara.

Sebelum melaksanakan salat tarawih, Wapres sempat menyampaikan tausiyah mengenai pentingnya umat Islam dalam bermuamalah seperti kegiatan ekonomi, sesuai dengan syariat Islam.

Mengawali tausiyahnya, Wapres menyampaikan rasa sukacitanya atas pembentukan Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) yang esok hari akan dikukuhkan kepengurusannya.

Menurutnya, pengembangan ekonomi dan keuangan syariah sangat penting dilakukan sebagai upaya mengajak umat Islam untuk bermuamalah sesuai dengan syariah.

“Muamalah itu artinya, ekonominya sesuai dengan syariat Islam, yang tidak ada ribanya, tidak ada dhararnya (bahayanya), dan tidak ada sesuatu yang dilarang dalam agama,” ujar Wapres.

Lebih lanjut, Wapres menjelaskan alasan pentingnya bermuamalah secara syariah, pertama, agar harta yang dihasilkan dari berbagai kegiatan muamalah dapat memiliki nilai. Sebab, kegiatan muamalah yang tidak sesuai dengan syariah dianggap tidak ada nilainya dalam Islam, meskipun berwujud dan hasilnya banyak.

“Yang tidak ada menurut syariat, sama dengan tidak ada menurut fisiknya,” tegasnya.

Dalam agama, sambung Wapres, harta itu terbagi menjadi dua jenis yakni harta yang bernilai dan yang tidak bernilai.

“Adapun barang yang bernilai itu adalah barang yang boleh dimanfaatkan dalam waktu normal artinya barangnya halal,“ sebutnya.

Kemudian, Wapres menyampaikan alasan kedua pentingnya bermuamalah secara syariah, adalah untuk mencegah umat Islam terjerumus ke dalam neraka.

“Salah satu caranya adalah dengan tidak mengkonsumsi yang haram, yang tidak sesuai syariah,” tuturnya.

Selanjutnya, Wapres menjelaskan bahwa barang haram itu terbagi atas beberapa macam, yakni dari dzatnya (bendanya), prosesnya, dan cara mendapatkannya.

“Oleh karena itu kita kembangkan KDEKS, supaya umat Islam bermuamalah secara syariah melalui ekonomi dan keuangan syariah,” ujar Wapres.

“Saya kira itu yang harus dipahami oleh umat Islam kenapa harus ada bank syariah, asuransi syariah, pasar modal syariah, sertifikat halal, dan industri halal, itu yang akan kita kembangkan,” imbuhnya.

Lebih jauh, pada kesempatan ini Wapres juga menyampaikan keutamaan bulan Ramadan. Salah satunya adalah keistimewaan melaksanakan puasa.

“Puasa ini adalah ibadah yang sangat spesial. Kenapa spesial? Karena Allah mengatakan puasa itu untuk saya, dan saya yang akan membalasnya dengan pahala yang tidak terhingga,” ungkapnya.

Selanjutnya, Wapres menerangkan hikmah puasa, yakni selain sebagai pelatih kesabaran dan kedisiplinan, juga sebagai penahan hawa nafsu.

“Semua orang mempunyai nafsu dan nafsu itu kecenderungannya membawa kejelekan. Nafsu kalau tidak ditahan akan kebablasan, seperti kata Nabi, kalau orang diberi emas satu gunung, dia ingin dua gunung, terus saja,” terangnya.

Mengutip pendapat Syekh Nawawi Albantani, Wapres menyebutkan bahwa salah satu nafsu yang paling sulit dikendalikan.

Tidak hanya tentang keistimewaan puasa, Wapres juga menyinggung tentang besarnya pahala orang yang memberi makanan untuk berbuka puasa. Menurutnya, pahala orang yang memberi makanan untuk berbuka puasa adalah sama seperti halnya pahala puasa penuh tanpa dikurangi sedikitpun.

“Siapa yang memberi makan dalam setahun 36 orang yang berpuasa, maka sama dengan dia berpuasa sepanjang masa. Kenapa seperti itu? Karena 36 dikali 10 hari, 360 hari, berarti setahun. Itu artinya dia melaksanakan puasa selama setahun [penuh]. Kalau tiap tahun dia kasih 36 orang berarti tiap tahun dia berpuasa. Kalau dia memperbanyak memberi makan orang yang berbuka puasa, maka sama dengan dia ditulis oleh Allah sebagai orang yang berpuasa bermasa-masa,” terangnya.

Terakhir, Wapres menyampaikan tentang keutamaan bulan Ramadan yang lain, yakni adanya malam Lailatul Qadar atau malam yang lebih baik dari malam 1000 bulan atau 83 tahun.

“Beribadah satu malam [di malam Lailatul Qadar] sama dengan kita memperoleh pahala beribadah selama 83 tahun,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Masjid Agung Awwal Fathul Mubien merupakan masjid tertua di Kota Manado yang dibangun pada 1770 oleh para pedagang muslim dari Arab dan tanah Jawa. (EP/AS-BPMI Setwapres)