Banten, wapresri.go.id – Syekh Nawawi Al-Bantani selama ini dikenal sebagai seorang guru bangsa dan ulama Indonesia bertaraf internasional yang menjadi Imam Masjidil Haram. Sebagai seorang ulama dan intelektual, Syekh Nawawi sangat produktif dalam menulis kitab yang meliputi bidang ilmu fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadis.

Oleh sebab itulah, Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin menyebutkan bahwa Syekh Nawawi Al-Bantani sebagai cendekiawan generalis multiilmu.

“Beliau memang menguasai banyak [bidang ilmu agama Islam], bukan hanya satu bidang, tetapi seorang generalis, artinya semua ilmu [dikuasasi], dan itu kitabnya tersebar di mana-mana,” papar Wapres saat menghadiri acara Haul Ke-130 Syekh Nawawi Al-Bantani di Aula Pesantren An-Nawawi Tanara, Jl. Kp. Kemuludan, Tanara, Kab. Serang, Banten, Jumat (19/05/2023).

Salah satu kitab karya Syekh Nawawi yang paling terkenal, sebut Wapres, adalah Kitab Tafsir Marah Labid sebagai satu-satunya kitab tafsir berbahasa Arab yang ditulis oleh orang Indonesia.

“Jadi hanya satu, orang Indonesia yang menulis kitab tafsir dalam bahasa Arab yaitu Syekh Nawawi yang namanya Marah Labid atau dikenal dengan tafsir Munir dan dijadikan bahan tesis maupun disertasi baik di Libya, Mesir, bahkan juga di Khartoum University Sudan,” paparnya.

Selain itu, sambung Wapres, karya-karya Syekh Nawawi dalam berbagai bidang lain seperti kitab fikih Nihayatuz Zain, kitab tauhid Tijan Ad-Darari, kitab tasawuf Maraqi al-ubudiyah, Salalimul Fudhola, dan Misbahu ad-Dzulami Syarh al-Hikami juga menjadi rujukan pembuatan tesis dan disertasi di berbagai universitas terkemuka dunia. Bahkan menurutnya, keunggulan keilmuan Syekh Nawawi juga diakui oleh cendekiawan lintas agama.

“Tidak heran kalau Louis Maghluf, seorang Kristen Mesir, di dalam Kitab Munjid menyebutkan bahwa Muhammad Nawawi adalah seorang ulama Madzhab Syafi’i, orang Jawa, ahli tasawuf [yang] unggul juga di bidang tafsir,” sebutnya.

Lebih jauh pada kesempatan ini, Wapres menuturkan tentang keluasan cara berpikir Syekh Nawawi dalam memaknai ayat-ayat Al-Qur’an sehingga mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, Syekh Nawawi menafsiri ayat khudzu hidzrakum (bersiap siagalah kamu) tidak hanya dalam konteks menjaga diri dari musuh dalam perang, tetapi juga dari semua bahaya yang diduga akan datang, seperti wabah penyakit.

“Semua bahaya yang akan datang kita harus antisipasi. Dari cara berpikir ini maka berobat itu dan menjaga diri dari wabah penyakit itu wajib. Artinya, menjaga diri dari wabah penyakit, termasuk wabah Covid-19 melalui protokol kesehatan, vaksinasi, itu berarti wajib kata Syekh Nawawi Al-Bantani,” terangnya.

Selain itu, lanjut Wapres, Syekh Nawawi juga dikenal melalui pandangannya tentang bolehnya umat Islam mencari dunianya (rizkinya) bahkan sebanyak-banyaknya, selama tidak melalaikan kewajiban-kewajibannya kepada Allah SWT. Adapun terkait hadis yang menyebutkan bahwa “siapa mencintai dunianya maka membahayakan akhiratnya”, Syekh Nawawi pun menerangkan bahwa hadis tersebut merujuk pada orang yang mencari dunia dengan mengerjakan hal-hal yang dilarang agama sehingga ia kehilangan akhiratnya.

“Orang yang cinta dunia dalam arti proporsional, wajar saja, tidak berlebihan, dengan tetap menjaga kewajiban-kewajibannya pada Allah, itu bagian daripada watak manusia (manusiawi). Jadi, Beliau (Syekh Nawawi) mengatakan bahwa yang tidak boleh itu kalau kita mencari rizki tidak sesuai syariah. Karena kalau tidak sesuai syariah itu berarti tidak ada [tidak bernilai],” pungkasnya.

Sebagai informasi, Syekh Nawawi Al-Bantani lahir di Kampung Tanara, Desa Tanara, sebuah desa kecil di Kecamatan Tirtayasa (sekarang Kecamatan Tanara), Kabupaten Serang, Banten pada tahun 1230 Hijriyah atau 1815 Masehi, dengan nama Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi Al-Bantani.

Dia adalah sulung dari tujuh bersaudara, yaitu Ahmad Syihabudin, Tamim, Said, Abdullah, Tsaqilah dan Sariyah. Ia merupakan generasi ke-12 dari Raja Pertama Banten, Sultan Maulana Hasanuddin yang juga Putra Sunan Gunung Jati, Cirebon. Nasab Syekh Nawawi melalui jalur Kesultanan Banten ini sampai kepada Nabi Muhammad SAW.

Bersama saudara-saudara kandungnya, Syekh Nawawi belajar pengetahuan dasar bahasa Arab, fiqih, tauhid, Al-Qur’an dan tafsir. Pada usia delapan tahun bersama kedua adiknya, Tamim dan Ahmad, Syekh Nawawi berguru kepada K.H. Sahal, salah seorang ulama terkenal di Banten saat itu. Kemudian melanjutkan kegiatan menimba ilmu kepada Syekh Baing Yusuf Purwakarta.

Saat usianya mencapai lima belas tahun, Syekh Nawawi menunaikan ibadah haji dan berguru kepada sejumlah ulama masyhur di Makkah saat itu. Setelah tiga tahun bermukim di Makkah, Syekh Nawawi pulang ke Banten sekitar tahun 1828 Masehi.

Sampai di tanah air, Syekh Nawawi menyaksikan praktik-praktik ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan penindasan yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda terhadap rakyat. Tak ayal, gelora jihad pun berkobar. Sebagai intelektual yang memiliki komitmen tinggi terhadap prinsip-prinsip keadilan dan kebenaran, Syekh Nawawi kemudian berdakwah keliling Banten mengobarkan perlawanan terhadap penjajah sampai pemerintah Belanda membatasi garakannya, seperti dilarang berkhutbah di masjid-masjid.

Bahkan Syekh Nawawi dituduh sebagai pengikut Pangeran Diponegoro yang ketika itu sedang mengobarkan perlawanan terhadap penjajahan Belanda (1825 – 1830 Masehi). Akibat berbagai tekanan dan pengusiran oleh Belanda, ia pun memutuskan kembali ke Makkah tepat ketika puncak terjadinya Perlawanan Pangeran Diponegoro pada tahun 1830.

Hingga akhir hayatnya, Syekh Nawawi menetap di Makkah untuk memperdalam ilmu dan mengajarkannya kepada murid-muridnya, khususnya para siswa dari Indonesia yang menuntut ilmu di tanah suci. Hingga kini Syekh Nawawi disebut sebagai guru dari para guru ulama nusantara yang telah melahirkan para ulama besar, seperti K.H. Kholil Bangkalan, K.H. Asnawi Kudus, K.H. Tubagus Bakri, dan K.H. Arsyad Thawil Banten, K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), K.H. Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama), serta Sulaiman Ar-Rasuli (Pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah).

Hadir pada acara ini, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD, Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo, Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, dan Pj. Gubernur Banten Al Muktabar. Hadir pula Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf sebagai tamu kehormatan untuk memimpin pembacaan selawat.

Sementara, Wapres didampingi oleh Kepala Sekretariat Wapres Ahmad Erani Yustika, Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan Suprayoga Hadi, Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pemerintahan dan Wawasan Kebangsaan Velix Wanggai, Deputi Bidang Kebijakan Ekonomi dan Peningkatan Daya Saing Guntur Iman Nefianto, Deputi Bidang Administrasi Sapto Harjono Wahjoe Sedjati; Staf Khusus Wapres Masduki Baidlowi, Masykuri Abdillah, Robikin Emhas, Zumrotul Mukaffa, dan Arif Rahmansyah Marbun; serta Tim Ahli Wapres Farhat Brachma dan Iggi Haruman Achsien. (EP/RJP-BPMI Setwapres)